Kalau ada burung yang tidak mau bernyanyi, Nobunaga Oda akan berkata:”Bunuh burung itu!” dan Hideyoshi Toyotomi akan berkata:”Buat burung itu bernyanyi”, lalu Ieyasu Tokugawa:”Tunggu dulu, kita berpikir sejenak!”
Itulah puisi termasyur yang mengungkapkan perbedaan sifat dan karakteristik antara tiga shogun terbesar dalam sejarah Jepang.Masa-Masa Awal TokugawaIeyasu Tokugawa (1543-1616) dilahirkan ditengah keadaan Negara yang kacau, dengan nama Matsudaira Takechiyo. Ieyasu merupakan pemimpin pertama dari Keshogunan Tokugawa yang mana akan memerintah Jepang selama 264 tahun setelah berakhirnya Perang Sekigahara. Dan zaman itu disebut sebagai zaman Edo, atau juga bisa juga kita sebut sebagai zaman Tokugawa.
Ketika Ieyasu berusia tujuh tahun, untuk mempererat hubungan aliansi, ia diutus sang ayah kepada Yoshimoto Imagawa, sebagai seorang tawanan. Namun, beberapa tahun kemudian, Yoshimoto kalah dalam pertarungannya melawan Nobunaga (tokoh ini pun andil yang sangat besar dalam sejarah Jepang). Pada saat itulah Nobunaga menyelamatkan Ieyasu. Dan saat itu juga Ieyasu pun diangkat sebagai anak buah Nobunaga. Hanya untuk membuktikan kesetiaannya pada Nobunaga, Ieyasu tega membunuh istri pertamanya, serta menyuruh putranya untuk bunuh diri.
Perang Sekigahara
Perang Sekigahara adalah perang yang didasari atas keinginan untuk menguasai Jepang. Dan yang menjadi sebab musabab dalam perang tersebut adalah Ieyasu Tokugawa dan Mitsunari Toyotomi yang merupakan anak buah sekaligus pengganti Nobunaga yang tewas dibunuh oleh Mitsuhide Akechi.
Namun, sayangnya Hideyoshi wafat tak lama setelahnya akibat sakit (1598), dan ia meniggalkan seorang bayi bernama Hideyori Toyotomi untuk meneruskan kekaisarannya. Kemudian tentunya Ieyasu dan Matsunari-lah yang menjabat sebagai penasihat, namun terjadilah konflik yang menimbulkan perang. Dan perang tersebut dikenal dengan nama “Perang Sekigahara”. Lho, kenapa namanya Sekigahara? Iya dong, ‘kan perangnya di kota Sekigahara yang terletak di distrik Fuwa, propinsi Mino, Jepang. Kalau perangnya di Tokyo, mungkin namanya Perang Tokyo, ya? Ieyasu adalah Pasukan Utara dan Matsunari Pasukan Timur. Begitulah mereka menyebut satu sama lainnya. Dan julukan itu sampai sekarang masih sering dipakai oleh para sejarawan di Jepang.
Ok let’s go back to Sekigahara. Ieyasu membuat keshogunannya sendiri serta mengatur ulang seluruh undang-undang kenegaraannya. Dan yang lebih hebat lagi, ia membuat banyak mesin serta peralatan perang yang membuat keshogunan Ieyasu terkenal.
Akan tetapi, sesungguhnya, Ieyasu tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang Sei-Taishogun atau seorang pemimpin dalam suatu keshogunan. Kenapa? Soalnya, dia tidak terlahir dari klan Minamoto, dan hanya orang-orang dari klan tersebutlah yang boleh memimpin keshogunan. Namun, demi memuaskan keinginannya yang kuat, ia memalsukan garis keturunannya dan akhirnya membangun Keshogunan Tokugawa. Keshogunan tersebut merupakan keshogunan terakhir setelah Keshogunan Kamakura dan Muromachi runtuh.
Pada masa keshogunan Tokugawa, rakyat Jepang dibagi menjadi beberapa kelas, yang sebenarnya diciptakan oleh Hideyoshi Toyotomi. Kelas samurai tentunya menduduki hirarki teratas, lalu diikuti oleh kelas pengrajin, dan pedagang. Namun, ternyata banyak orang yang sering berontak, lho. Kenapa? Ya iyalah, soalnya, dengan pembagiankelas yang teramat kaku tersebut menghilangkan kesempatan bagi seseorang untuk berpindah kelas, dan lagi, pajak untuk para petani selalu tetap tanpa menghitungkan inflasi, sehingga para samurai harus merugi! Oleh sebab itu, hasil pengumpulan pajak semakin lama semakin berkurang.
Lalu, terjadilah pertikaian antara para petani kaya dan para samurai yang kurang makmur hidupnya. Pertikaian yang awalnya cuma pertikaian kecil, lama-lama semakin membesar, bahkan sampai memakan korban jiwa. Tentu saja kelompok yang menyebut dirinya sebagai pasukan anti Tokugawa bertambah kuat. Ditambah lagi, pada saat yang sama pula, ieyasu memutuskan untuk bersekutu dengan kekuatan asing. Akhirnya, akibat maraknya gerakkan Bakumatsu, dimana semua rakyat yang tidak setuju dengan kepemimpinan saat itu bekerja sama untuk menggulung kekuasaan keshogunan tersebut, keshogunan Tokugawa pun runtuh. Maka, tamat pula zaman Edo.
Nah, demikianlah kisah tentang Ieyasu Tokugawa. Bagi kalian yang tertarik ingin mengetahui lebih jauh, kalian bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari internet atau juga literatur-literatur tentang sejarah Jepang, salah satunya yang sudah ada sejak dulu terkenal di Indonesia adalah novel tentang tiga shogun terbesar yang berjudul ”Taiko”. Jadi, sambil menjalankan hobi membaca, kita juga bisa tambah pengetahuan, dehsumber : Majalah Komik Hanalala